BALOCCI PANGKEP - Kepedulian dan semangat kemanusiaan kembali ditunjukkan jajaran UPTD Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Bulusaraung, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Sulawesi Selatan, dalam tragedi jatuhnya pesawat ITR ATR 42-500 di kawasan hutan lindung Bulusaraung.
Kepala UPTD KPH Bulusaraung, Syukri S.P., M.Si., memimpin langsung 15 personel Polisi Kehutanan (Polhut) untuk memantau kondisi di sekitar lokasi jatuhnya pesawat sekaligus membantu proses evakuasi korban dan serpihan pesawat.
Kawasan hutan lindung Bulusaraung yang dikenal dengan kontur pegunungan terjal menjadi medan berat bagi tim gabungan yang terlibat dalam operasi kemanusiaan tersebut.
Kehadiran Polisi Kehutanan dinilai sangat penting karena mereka memahami betul karakteristik wilayah hutan, jalur pendakian, serta kondisi alam yang rawan dan sulit dijangkau.
Muchtar M.SST, yang ditemui di Posko Tompo Bulu di areal Gunung Bulusaraung, Senin (19/1/2025), mengungkapkan bahwa proses evakuasi menghadapi tantangan yang sangat berat.
Menurutnya, kabut tebal yang menyelimuti kawasan hutan menyebabkan jarak pandang hanya sekitar 10 meter, sehingga menyulitkan pergerakan tim di lapangan.
Selain kabut, angin kencang dan hujan yang turun secara berkala turut memperparah kondisi, meningkatkan risiko keselamatan bagi seluruh personel yang bertugas.
Meski demikian, semangat para petugas tidak surut sedikit pun. Mereka tetap bergerak menyusuri jalur hutan demi menjalankan misi kemanusiaan dan memastikan korban dapat dievakuasi dengan layak.
|
Baca juga:
Puluhan Kayu Ilegal Diamankan di Tanah Laut
|
Koordinasi antara Polisi Kehutanan, tim SAR, aparat keamanan, dan relawan terus dilakukan agar proses pencarian dan evakuasi berjalan efektif di tengah keterbatasan alam.
Syukri S.P., M.Si., menegaskan bahwa keterlibatan jajaran KPH Bulusaraung merupakan bentuk tanggung jawab moral dan kemanusiaan, mengingat lokasi kejadian berada di kawasan hutan lindung yang menjadi wilayah pengelolaan mereka.
Ia juga menyampaikan apresiasi atas dedikasi seluruh petugas yang tetap bertahan di lapangan meski harus menghadapi cuaca ekstrem dan medan yang sangat sulit.
Operasi evakuasi ini tidak hanya menjadi tugas teknis semata, tetapi juga wujud empati dan kepedulian negara terhadap para korban dan keluarga yang ditinggalkan.
Tragedi jatuhnya pesawat ITR ATR 42-500 di kawasan hutan Bulusaraung menjadi pengingat bahwa di balik kerasnya alam, masih ada jiwa-jiwa tangguh yang rela mempertaruhkan keselamatan demi kemanusiaan.( Herman Djide)

Updates.